Kakakku sudah mati
Saya bukanlah orang bodoh dan saya juga bukan orang sangat pintar. Tapi saya tau apa yang benar dan apa yang salah siapa yang berbohong dan siapa yang jujur. Kisah ini tak lain seperti kisah buaya dan kerbau. Niat sang kerbau sangatlah mulia menolong buaya malang yang tertindih kayu besar. Tapi sayang sang buaya yang tak kenal rasa terimakasih malah mengambil kesempatan itu pada kerbau yang baik hati. Apalah nasib kerbau yang dalam cekeram si buaya. Mati termakan, tak tampak baik si kerbau oleh sibuaya.
Dari sini saya berfikir seolah perbuatan baik tak lah selalu di balas baik. Adakala baik di balas dengan penghianatan yang amat keji. Adalah kebaikan di balas dengan penghinaan yang amat hina dina yang termakan di anjing yang terhidu di babi. Tak jarang hati yang suci dinista dengan air comberan yang amat busuk. Saudara sendiri malah jadi pelakunya. Kalau lah semua dah terjadi apa yang hendak di buat selain ikhlaskan saja apa yang termakan, ikhlaskan saja apa yang di buat biarlah di telan walau pahit terasa.
Biarlah semua menjadi tanda. Walau darah akan lebih cepat berlaju dalam tubuh di banding air. Namun tak jarang pula darah yang di aliri hanyalan darah kotor yang tak bersahabat dengan tubuh malah memberikan wabah yang mematikan. Sedang air yang mengalir biarlah lambat tapi pastilah membawa rahmat. Memanglah saya yang terlalu mengedepankan rasa hingga lupa pada fakta. Bahwa ia memang begitulah orangnya. Selamat tinggal kakakku hari ini kau telah tiada.
Komentar
Posting Komentar